Algoritma Kecabuhan

Anak sekarang banyak tekanan.
Anak sekarang banyak tuntutan.
Anak sekarang banyak saingan.
Jadi begitu jiwanya tidak sanggup lagi menahan, maka bOOm! Meledak dalam wujud memukul teman, bikin konten umpatan, memberontak bahkan membacok gurunya.
Mari kembali ke masa lalu.
Zaman kecil saya sederhana. Pagi sarapan (wajib karena uang saku pas pasan, pas cuma buat sekali jajan), ke sekolah jalan kaki/bersepeda/naik angkutan umum itu biasa. Ya karena hampir semua anak seperti itu. Tidak ada ponsel pintar, tivi saja acaranya dunia dalam berita yang gambarnya bergaris-garis. Berita zaman dulu juga tidak semanipulatif sekarang, yang ujungnya memicu emosi. Film kartun favorit kami (baca: tidak ada pilihan) hanya ditayangkan di hari Minggu pagi, jadi iklan jajan yang menggugah selera tidak sempat bertengger dalam otak lebih lama.
Bagi gen-x dan millenials, tidak ada google, jadi harus menalar tentang bagaimana caranya memetik mangga tetangga tanpa galah dan tidak ketahuan.
Tidak ada media sosial, jadi harus mengoptimalkan kepekaan mencari kemungkinan dimana posisi sang teman jika tidak ada di rumahnya.
Tidak ada kamera, jadi tidak repot pencitraan apalagi skinkeran.
Tidak ada geogebra calculator suite, jadi harus berpikir cermat bagaimana caranya menggambar grafik dan menghitung akar pangkat tiga.
Anak-anak dulu sadar benar makna sekolah itu ladang ilmu. Pun tentang eksistensi guru yang harus digugu lan ditiru. Jadi kalau guru kita praktek KDRT pakai penggaris kayu atau penghapus kapur, tidak ada murid yang berkoalisi atau berniat melakukan kudeta. Bahkan kami sepakat untuk tidak menertawakan atau mengejek korban. Kami tahu, hukum karma pasti berlaku.
Siklusnya stabil, yaitu jika hari ini mendapat hukuman, pulang sekolah merenung, meratapi nasib sambil nangis dikit, tapi esok bangun semangat lagi ke sekolah. Bisa gitu? Iya karena kalau tetap di rumah malah disuruh kerja rodi sama orang tua.
Memang sih, guru-guru zaman old penuh wibawa, berdedikasi tinggi, berbudi luhur dan jelas tauladan yang baik. Ortu zaman dulu juga tunduk sepenuhnya terhadap aturan sekolah. Percaya dan sadar sesadar-sadarnya bahwa anak-anak mereka akan dididik dengan cara yang tepat. Jadi tidak ada cerita wali murid datang ke sekolah ngamuk (baca: mengetapel mata guru) lantaran tidak terima anaknya ditegur karena merokok.
Sekarang kita ke main course.
Scroll atas, gen z dan alpha bisa jadi bermental -makanan khas Indonesia yang terbuat dari fermentasi kedelai- karena terbiasa berlaku praktis. Ortu mendidik secara instan, termasuk asupan makanan yang diberikan. Kebanyakan jika sang buah hati rewel, lekas saja diberi tontonan dari ponsel cerdasnya. Akhirnya mereka tumbuh bersama 'guru' yang tidak pernah KDRT, tidak pernah mengajak deep talk, pun 'guru' yang memaparkan materi pelajaran secara instan.
Sang 'guru' tidak butuh dihormati, disalimi, bahkan tidak akan pernah marah walau diabaikan, ditinggal tidur ataupun dicaci maki.
Tidak cukup sampai disitu pemirsa, sang 'guru' ini mau diketapel atau dibacok juga santai aja. Gak perlu dibawa ke UGD. Kalau nggak percaya, coba aja bilang dia nggak punya otak! Aman, gak bakal distitch deh.
Lalu apa yang membuat anak-anak meledak tadi?
Tuntutan generasi sekarang, yang harus bisa bedain penempatan by the way dengan anyway. Harus selalu upgrade apa yang sedang viral, ah apa itu istilahnya, kita sebut fomo aja biar cepet. Iklan yang beragam dan menggugah selera, membuat mereka menghalalkan segala cara demi memiliki produknya. Belum lagi pengaruh media sosial yang kian bervariasi. Benar-benar gambaran dunia masa kini yang penuh bujuk rayu serta tipu daya.
Paling utama adalah tuntutan akan 'guru' mereka yang harus lebih canggih dari milik teman-temannya. Para orang tua jelas mendukung penuh dan sepakat bahwa buah hatinya tidak boleh ketinggalan zaman. Disitu timbul persaingan. Njelalah tidak semua anak terlahir seperti Cipung.
Ada azas keseimbangan. Tidak sedikit anak-anak ini akan mendapat tekanan dari sosok orang tua yang merasa berjasa telah membawa ananda melihat dunia. Si anak harus juara, harus menang lomba, harus jaga nama baik keluarga, harus harus harus seperti mau si sepuh.
Ternyata hasil didikan 'guru' yang tidak pernah marah tadi justru menjadikan generasi masa kini jadi mudah emosi. Merasa sah-sah saja membentak yang lebih sepuh. Tidak akan apa-apa jika melawan guru di dunia nyata dan melanggar norma. Simpelnya, jika dijahati ya berarti harus balas menjahati.
Ternyata hasil didikan 'guru' yang tidak butuh dihormati tadi malah membuat anak sekarang mengabaikan perasaan. Mudah menyerah. Gampang down dan menyalahkan keadaan. Rumitnya, mereka tidak lekas bangkit dari keterpurukan bahkan setelah ditunjukkan jalan kebenaran.
Ternyata hasil didikan 'guru' yang tidak punya otak tadi bisa membuat sang buah hati abai pada nurani. Enteng banget nyeletuk, "nggak bawa buku Bu.." atau "lupa tidak mengerjakan Bu.."
Lalu ketika ulangan di lembar jawaban diisi dengan "hanya Allah yang tahu".
Iyaa pinter, Allah Maha Tahu, beneer. Jadi Nak.. istirahat sebentar.. tolong, jangan jauh-jauh dulu mainnya.
Kalau pulang sekolah, orang rumah masih sibuk sampai ga sempet tanya, "anakku yang baik hati, bertakwa terhadap Tuhan YME, yang berdasadarma lah, tadi di sekolah belajar apa? Ada temen yang nakal enggak? Ada guru yang marah enggak?"
Ya udah B aja, dinormalisasi, bukan kamu sendiri kok yang ngalamin itu. Nanti kalau tiba-tiba ditanyain beneran malah salting nggak sih? Trus jadi awkward, ujungnya besok lupa minta sangu.
Kalau para sepuh protes karena kamu nggak juara 1, dijawab aja kalem: "Pah, Mah, juara 1 gak bikin aku otomatis belanja gratis di indojanuari kan? Buat apa? Mau dipamerin? Huss, pamer atau riya' itu dosa."
Atur napas dulu, tetep kalem.
"Imam Al-Ghazali menjelaskan, perbuatan riya atau pamer menyebabkan dua musibah besar bagi pelakunya. Musibah pertama adalah terlepasnya surga. Dampak yang lain adalah dicabutnya keimanan dari hati orang itu. Sehingga ia berhak masuk ke dalam neraka."
Atur napas lagi, masih kalem.
"Jadi Papah Mamah harusnya bersyukur, aku nggak juara 1 justru mengajarkan kita untuk ikhlas dan rendah hati."
Ayo putra putri calon pemimpin masa depan, perlu diingatkan nggak? Di dunia ini ada yang namanya 'dosa' juga loh.
Kalau 'guru' kalian yang gepeng dan gak bisa nggerusin obat itu nggak tahu berapa peluang si doi akan membalas cintamu, sana Nak.. cerita sama guru matematikamu, biar dibantu hitungin, minta sekalian tips menetralisir bucin.
Kalau 'guru' kalian yang terus minta traktir kuota itu nggak bisa milihin cita-cita, sana Nak.. curhat sama guru BK, yang walaupun galak, beliau bisa nyanyi "bila bentakan kecilku patahkan hatimu.. lebih keras dari itu dunia kan menghakimimu.."
Kalau 'guru' kalian yang gak tahan air hujan itu nggak bisa makein dasi dengan rapi, sana Nak.. deketin guru prakarya, yang meskipun banyak ngasih tugas, tapi gak bakal sesulit barisan aritmetika.
Apakah belum cukup adil?
Benak anak-anak bakal penuh pertanyaan seperti:
Bagaimana dengan guru yang galak? Guru yang gak pernah senyum? Guru yang gak disiplin? Guru yang gak pernah jelasin materi tapi ngasih tugas berlembar-lembar? Guru yang suka nyindir? Guru yang ngebanding bandingin? Guru yang gak bisa jadi panutan?
Kok seolah-olah cuma kami yang salah?
Kan Allah Maha Tahu. Jadi serahin aja sama Allah. Tadi juga sudah disinggung tentang hukum karma kan? Gak usah capek ngedoain juga pasti dapat balasan.
Yang namanya sekolah itu tempat belajar. Belajarnya juga tentang bagaimana caranya menghadapi guru yang galak, belajar sabar, belajar ikhlas, belajar tahan banting, belajar adaptasi, belajar tidak menyalahkan keadaan atau orang lain, belajar berjuang dalam situasi sulit, belajar maklum bahwa guru juga manusia.
Cukup tauuu, beliau para guru juga terus dikasih pelatihan kok. Ada pengawasan rutin dari pemerintah. Ada undang-undang tentang perlindungan anak yang wajib dipahami. Pun dituntut beradaptasi dengan zaman penuh teknologi seperti sekarang ini. Jadi Nak, yang dapat PR nggak cuma kalian, sing tenang.
Jangan niru dilan, yang gurunya salah kok dilawan. Berarti kurang itu daya nalarnya, berarti kurang lama ngajinya, berarti kurang khusyuk doanya. Cukup dengan tidak ditiru lan digugu itu Nak.
Karena beliau yang kurang melogika dan hanya mengagungkan emosi itu biasanya menuai penyesalan. Abis nyesel apa coba? Masang paku pake palu, alias malu. Jadi kalian harus cerdik dengan jaga sikap dan ucapan biar nanti nggak berbuntut masang paku pake palu itu tadi. Biarkan saja hanya Allah yang tahu.
Sekali lagi, ayo jangan gampang emosi, jangan gampang bilang 'baby!', nanti nyesel, trus nangeess.
Lapor aja sama Allah. Diinget terus, malaikat selalu waspada. Catatan amal nggak bisa di tipe-x, jangan samakan dengan buku tulis IPA yang gampang disobek. Kita berhenti napas gak harus nunggu tua atau dikabarin via WA. Gak harus nunggu selesai keliling dunia. Apalagi nunggu doi nerima cintamu juga.
Komentar
Posting Komentar