Postingan

Algoritma Kecabuhan

Gambar
Anak sekarang banyak tekanan. Anak sekarang banyak tuntutan. Anak sekarang banyak saingan. Jadi begitu jiwanya tidak sanggup lagi menahan, maka bOOm! Meledak dalam wujud memukul teman, bikin konten umpatan, memberontak bahkan membacok gurunya. Mari kembali ke masa lalu. Zaman kecil saya sederhana. Pagi sarapan (wajib karena uang saku pas pasan, pas cuma buat sekali jajan), ke sekolah jalan kaki/bersepeda/naik angkutan umum itu biasa. Ya karena hampir semua anak seperti itu. Tidak ada ponsel pintar, tivi saja acaranya dunia dalam berita yang gambarnya bergaris-garis. Berita zaman dulu juga tidak semanipulatif sekarang, yang ujungnya memicu emosi. Film kartun favorit kami (baca: tidak ada pilihan) hanya ditayangkan di hari Minggu pagi, jadi iklan jajan yang menggugah selera tidak sempat bertengger dalam otak lebih lama. Bagi gen-x dan millenials, tidak ada google, jadi harus menalar tentang bagaimana caranya memetik mangga tetangga tanpa galah dan tidak ketahuan. Tidak ada media sosi...

DEBUT PEMUDA

Gambar
Genre: teenlit - young adult Selama menjadi pendidik, tak terhitung kata-kata larangan yang saya lontarkan kepada anak-anak didik saya. Saya cenderung over protektif kepada mereka generasi penerus bangsa ini. Bukannya tidak ingin mereka bahagia, misi saya hanyalah agar mereka tidak salah langkah dan timbul penyesalan di kemudian hari. Walaupun saya paham, kesalahan-kesalahan yang mungkin mereka alami bisa jadi pembelajaran untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Tetapi untuk kali ini, bukan itu yang ingin saya kemukakan. Saya tetap bertahan menjadi orang tua yang kolot dan mengagungkan kalimat: 'demi kebaikan'. Biarlah, mungkin akan ada anak belasan tahun lagi yang berucap di depan mata saya, "Aku nggak suka sama Ibu." (Senyum tipis aja) Tulisan ini bermula dari seorang anak yang sekarang sudah berada di tahap young adult, yang berkata: "Bener Bu, berbenah ndisik sing penting ki." Mungkin dia dulu juga sempat menolak nasehat saya. Saya maklum, menginjak bel...

PANDEMI MEMBAWA MISI

Gambar
Masih terngiang ucapan putri saya di awal pandemi, "Aku suka lihat Ibu di dapur." Begitu pernyataan polos bocah lima tahun yang otomatis membuat saya merasa tertonjok. Saya termasuk seorang ibu yang malas melakukan aktivitas dapur. Miris, terlebih usia saya di kepala tiga dengan anak pertama yang sudah kelas lima. Dulu saya menganggap jika perkara makan merupakan persoalan sepele dan mempercayakannya kepada warung makan yang banyak ditemukan di sekitar rumah kami. Sejak pandemi, rutinitas manusia di dunia berubah, termasuk saya yang seorang guru matematika di sebuah SMP. Semua aktivitas hanya dilakukan di rumah saja. Awalnya terasa aneh. Pagi yang biasanya terburu-buru menyiapkan diri untuk sekolah, hingga tak jarang mengindahkan sarapan, kehadiran covid-19 justru menjanjikan sebuah kehidupan baru yang santai dan lebih menarik. Sekarang saya bisa memasak sembari bercengkrama bersama anak-anak. Walau hanya menu sederhana, tetapi anak-anak menyukainya. Terpenting, kita hampir t...

ARSIP 21+

Gambar
Maaf ya.. untuk bacaan yang lebih panjang di arsipkan . Bagi yang berminat silahkan menulis komentar atau dm https://instagram.com/poweradarasika?igshid=187h0fkzyorrd Terima kasih. 🤗

Dialah ALLAH, Sang Maha Proporsional

Gambar
Iya, Sang Maha Proporsional. Proporsional itu seimbang, atau kalau kata saya 'pas'. Di awal tahun dua puluh ini, saya bertanya kepada anak-anak kelas, "menurut kalian.. ibu nanti jadi wali kelas berapa ya Nak?" Beberapa menjawab kelas ini, ini dan ini. Beberapa juga menjawab dengan percaya diri, "yang kayak kami ini nggak ada lo Bu!" Setelah berhari-hari saya berpikir keras dan belum menemukan jawabannya, saya menyerah, bergumam dalam hati, "besok ngga usah jadi wali kelas aja lah.." Sang Maha Mendengar akhirnya menjawab dengan beberapa kejadian beruntun, yang putih jadi terlihat abu, yang abu jadi tampak hitam, yang hitam bisa berubah batik dan sesuka Sang Maha Kreatif lagi. Berusaha mengorek ingatan. Tiga putaran menjadi ibu dari anak-anak yang berbeda, Perkedel Kentang jadi si sulung, Persatuan Kelas Delapan Lima yang Keren dan Tangguh. Beberapa bulan menjadi ibu mereka, saya tidak mampu menyatukan persepsi, menyatukan tekad,...

Demi kebaikan, karena anak memang belum baik.

A long time ago.. Aku masih jadi anak, dan ingusan (sekarang sudah menjadi ibu, tapi masih juga ingusan). Bapak yang selalu galak (viral bapak tergalak se-RT 20) berpesan, "kamu anak.. sekalipun wedok, kudu wani, ojo nggembeng, ojo kalah karo cah lanang." Aku selalu ga' pernah pas dengan aturan-aturan dirumah yang sudah hampir mirip monarki britania raya. Masih kuat ingatan ini ketika secara tidak sengaja, aku yang berada di usia dini menghilangkan sekrup kecil yang pada saat itu ngga paham apa fungsinya. Lantas bapak galak memerintah, "Dicari sampai ketemu! Kalau enggak, jangan masuk rumah!" Scene berikutnya, ketika selepas Maghrib aku disuruh beli soto ke tempat yang (bagi anak kelas 2 SD) jauh dengan naik sepeda. Aku berusaha menolak, menangis, tapi jika bapak galak memerintah, aturan dirumah menjadi fardu ain, "Nek gak budal tuku, gak usah maem!". Lagi, ketika terjadi pemberontakan pertama..kelas 3 atau 4 aku lupa, aku sengaja bo...

Kebaikan itu Bukan Takdir

Gambar
Berawal dari hebohnya video bapak berkaos oranye yang memukul ibu-ibu di sebuah minimarket Pangkalpinang, kabarnya karena si ibu yang mencuri di toko milik si bapak. Si bapak oranye lantas menganiaya si ibu dengan sadisnya, padahal si ibu sangat berharap pengampunan dengan duduk bersimpuh di hadapan sang bapak oranye. Tanpa dikomando, netizen dengan tanpa ampun juga lantas menghujat si bapak oranye karena dianggap tidak berperikemanusiaan. Beritanya, si bapak oranye langsung dipecat dari institusinya. Tak lama, viral juga sebuah paparan yang berisi pembelaan kepada si bapak oranye. Di judul tertulis, "Waspada! Upaya pelemahan institusi p*lri melalui framing berita video pol*si". Isinya, kita disodorkan dengan fakta bahwa kejahatan sekarang terjadi dengan modus wanita dan anak-anak sebagai pelakunya. Netizen diminta adil menyikapi semua kejadian. Cukup menyentil ketika ada satu kalimat persuasif seperti ini, 'siapapun yang membela penjahat adalah penjahat'. ...