BELAJAR DARI PARA MURID


Hari itu aku mengajar kelas 9, di pojok kiri tampak empat murid sedang asyik mengobrol. Mereka tidak memperhatikan kehadiranku di kelas, padahal aku sudah mengabsen. Lantas kuusik acara mereka, aku melangkah mendekat.

Aku : “anak-anak, kalian rapat apa?”

Keempat murid tersebut menengok.

Murid 1 : “mbahas technical meeting besok Bu..”

Aku : “kan kalau ngobrol bisa dirumah..?”

Murid 1 : “nggak bisa Bu, dirumah kami nggak ketemu.”

Aku menghela nafas, berusaha menahan emosi.

Aku : “kalian sekolah disini sudah berapa tahun?”

Keempat murid berpandangan.

Murid 2 : “dua setengah tahun Bu.”

Aku : “apa yang sudah kalian dapat?”

Keempat murid berpandangan bingung dan berpikir.

Murid 2 : “eee...pengalaman Bu..”

Aku : “pengalaman apa? Pengalaman membolos? Membuat guru marah? Atau ngobrol di kelas?”

Murid 2 : “pramuka, volly..”

Aku : “bagus. Kalau tentang pelajaran, apa yang sudah kalian dapat?”

Keempat murid berpikir.

Murid 1 : “emm.. matematika Bu..”

Aku : “nah! Sebutkan apa saja materi itu!”

Seisi kelas hening, saling berpandangan.

Aku : ”apakah satu ditambah satu samadengan dua?”

Murid 1 : “iya Bu.”

Aku : “apakah saya mengajarkan itu..? Itu materi SD. Iya kan..?”

Aku melontarkan pertanyaan kepada siswa yang lain, dan serentak mereka menjawab “iyaaaaa”.

Aku : “hampir tiga tahun sekolah, jika tidak mendapat ilmu pengetahuan satupun.. harusnya kalian merasa rugi! Apa cita-cita kalian?”

Aku merasa puas berhasil membuat mereka terdiam. Lantas ingin melanjutkan eksekusi.

Aku : “Feb! Apa cita-cita kamu?”

Murid 1 : “atlet Bu..”

Agak kaget aku mendengarnya.

Aku : “kamu.. Nal?”

Murid 2 : “sama Bu..”

Kualihkan pandangan ke murid ketiga dan keempat dengan maksud sama.

Aku : “kalian sama juga?”

Kedua murid terakhir hampir bersamaan, satunya menjawab iya, sisanya mengangguk.

Aku merasa lemas. Rencanaku gagal total. Sebelum masuk kelas, telah kususun rapi apa-apa yang hendak kusampaikan. Ketika di kelas lain, kebanyakan anak akan menjawab ingin jadi polisi, dokter, guru, direktur dan cita-cita gagah lainnya. Lantas dengan mantabnya kuuraikan maksud pertanyaanku, apa yang harus mereka siapkan untuk mewujudkan cita-cita itu. Salah satunya dengan mempelajari pelajaran matematika yang notabene aku pengajarnya. Aku ingin memotivasi mereka, jika pelajaran yang aku sampaikan akan sangat berguna kelak. Mereka harus mulai berbenah dari sekarang. Tidak sekedar ngobrol dan bercanda saja ketika guru menjelaskan materi.

Aku terdiam agak lama. Keempat calon atlet tampak puas. Murid-murid lain berpandangan, berharap aku segera melanjutkan eksekusi yang biasanya mampu mendiamkan para pembuat onar di kelas. Aku sama sekali tidak menganggap remeh cita-cita mereka. Tidak ada yang salah dengan atlet. Mereka berhak menjadi apapun. Aku hanya tidak mampu memberi penjelasan. Jika mau jadi atlet, mereka harus sekolah dimana.. harus belajar apa.. aku benar-benar tidak tahu itu.

Aku : “jujur saya tidak menyangka kalian bercita-cita seperti itu. Saya hanya tidak bisa mengarahkan, selanjutnya kalian harus kemana..”

Aku berkata dengan lemas. Tiba-tiba muncul sebuah ide dari otakku.

Aku : “ohya.. kalian tahu tidak, cerita para atlet sepak bola kita?”

Semua murid menatap tak mengerti.

Aku : “mereka pernah telat dibayar gajinya..”

Kepercayaan diriku telah kembali, karena yakin anak-anak itu tidak tahu perihal ini.

Murid 1 : “kami atlet volly Bu!”

Aku : “oh.. tidak jauh berbeda.. di Indonesia banyak atlet yang telah pensiun, dari sepak bola, volly, bulu tangkis, yang mengalami kesulitan ekonomi, padahal mereka telah berjasa menorehkan prestasi demi bangsa ini..”

Murid 1 : “itu akan kami perbaiki di masa kami nanti Bu..”

Aku kembali terpana akan jawaban salah satu calon atlet itu.

Aku : “bagus! Saya tidak melarang.. kalian bebas menjadi apapun! Tapi kalian tahu kan.. jadi atlet itu terbatas usia..? tua sedikit, nggak dipakai..”

Murid 1 : “kami ganti jadi pelatih Bu.”

Aku : “oooh..”

Kekagetanku mencapai puncak sekarang. Dalam hati kupuji murid-murid itu yang ternyata sangat fokus dengan cita-citanya. Mereka mampu menjawab semua pernyataanku dengan cepat, bahkan memporak-porandakan rencana pembelajaranku.

Aku menghela nafas, rasanya cukup foreplay untuk pertemuan kali ini. Aku tidak akan bisa melawan mereka dengan emosi. Lagipula, aku tidak punya cukup ilmu tentang dunia atlet.

Aku : “baiklah anak-anak, semoga kalian beruntung. Sekarang kita lanjutkan pelajarannya. Sudah dikerjakan PRnya?”

Aku bertanya tanpa arti. Pikiranku masih dipenuhi oleh atlet.

Aku : “para atlet.. tuliskan ke depan jawaban kalian!”

Yang kutunjuk mulai ribut, saling bertanya.

Aku : “ayo Feb!”

Murid 1 : “belum Bu..”

Saat itu kurasakan aliran darah mulai naik menuju otak. Aku tidak sanggup lagi menahan emosi. Aku yang tadi telah duduk, kini berdiri lagi.

Aku : “kalian tidak lupa kan? Saya selalu memberikan PR. Dengan tenang dan tanpa perasaan bersalah, Febri menjawab ‘belum’. Apakah kamu anggap untuk menjadi atlet, materi saya jadi tidak penting dipelajari? Begitu ya Feb?!”

Seisi kelas mendadak hening. Murid-murid selalu tahu ketika sang guru mulai marah.

Aku sadar, aku tidak boleh emosi. Aku harus istirahat sejenak.

Aku : “soalnya ditambah! Dikerjakan halaman 26, nanti dikumpulkan bersama PR kemarin! Para atlet silahkan tidak mengerjakan.. kan pelajaran saya tidak penting untuk kalian..”

Aku tersenyum menyindir mereka. Emosiku masih bercokol di hati. Lalu kulangkahkan kaki menuju kantor, segelas air putih cita-citaku sekarang.

Di kantor aku bercerita kepada rekan-rekan sejawat, tapi tidak mendapat solusi yang berarti. Aku berfikir keras sampai tersisa 5 menit waktu mengajarku dan aku tidak mendapat apa-apa.

Aku melangkah gontai ke kelas, anak-anak sudah mulai mengumpulkan buku hasil tugas mereka. Lantas seorang siswa yang tergolong rajin memberitahuku bahwa para atlet tidak mengumpulkan tugas.

Beberapa hari berlalu, pikiranku terbagi antara memuji kefokusan cita-cita mereka dengan harus mendapat petunjuk untuk meluruskan pemahaman bahwa menjadi atlet pun semua pelajaran tetap penting dan harus dipelajari. Aku mulai googling mengenai kegunaan belajar matematika untuk para atlet. Banyak info yang kudapat, tapi untuk kurikulum SMA dan kurang spesifik untuk atlet volly. Hati kecilku sebenarnya tidak setuju dengan kurikulum Indonesia yang tidak fokus dan terlalu banyak pelajaran. Ikan dipaksa terbang, burung dipaksa berenang, begitu gambaran yang diberikan oleh seorang ahli. Harusnya memang anak-anak itu mulai diarahkan sejak dini, bagaimana untuk menjadi atlet, kemudian apa-apa yang harus dipelajari untuk melangkah kesana.

Hingga tiba hari dimana aku harus berhadapan lagi dengan kelas atlet, aku sengaja tidak masuk kelas, aku hanya memberi tugas untuk dikerjakan lalu dikumpulkan. Aku belum mendapat apa-apa. Sampai satu minggu berlalu, aku harus mengajar kelas atlet lagi. Tapi.. aku belum mendapat petunjuk. Aku sempat bercerita kepada beberapa teman kuliahku, mereka tidak mampu memberi solusi melegakan, malah ada yang bilang “untungnya murid-muridku tidak sekritis itu.”

Matematika melatih ketajaman logika, membuat kita bisa memperhitungkan hal-hal sederhana atau strategi, misalnya seorang penulis yang mampu menyusun kata-kata menjadi tulisan yang bagus itu membutuhkan strategi. Seorang pengacara mampu memenangkan sebuah kasus hukum juga membutuhkan strategi. Strategi tersebut mereka peroleh dari penalaran. Padahal kedua profesi tersebut tidak membutuhkan matematika saat kuliah.

Dari sekian banyak telusuranku, kutipan itu yang agak nyambung untuk masalahku. Nanti di kelas, aku akan mengubahnya untuk para atlet. Begitu pikirku.

Pertemuan yang berikutnya untuk para atlet, artileriku belum cukup kuat untuk melawan anak-anak. Untuk ketiga kalinya aku hanya memberi tugas. Aku hampir putus asa, Ya Allah.. bukankah semua permasalahan ada solusinya?

Lalu tak sengaja aku menatap daftar isi buku, ada materi peluang di akhir semester ini. Aku hampir memekik gembira mendapat petunjuk apa yang hendak kusampaikan kepada siswa-siswa terbaikku. Aku melangkah ke kelas, bersamaan dengan sang sekretaris kelas yang setengah berlari kearahku.

“Bu.. teman-teman tidak mau mencatat, capek katanya.. terutama para atlet, saya malah disuruh keluar kelas..” begitu kalimat si siswi rajin itu. Aku menghela nafas, mengucap bismillah, lantas memantabkan langkah.

Aku menatap para siswa satu kelas, lalu tersenyum.

“anak-anak yang baik, maaf untuk kemarin saya hanya memberi tugas.. khusus untuk hari ini, materi yang akan saya jelaskan tidak sesuai urutan.. karena saya belum lupa ketika para atlet tidak mengerjakan tugas yang saya berikan.” Saya melangkah mendekat ke barisan siswa calon atlet, karena semenjak kejadian itu, hampir semua guru menyebut mereka para atlet.

“kalian semua silahkan bercita-cita menjadi apapun, saya tidak berhak menghalangi. Nah, khusus kalian calon atlet, ada beberapa materi dalam matematika yang harus kalian ketahui ketika nanti jadi atlet bahkan pelatih. Itu akan kalian pelajari di SMA. Saya hanya ingin mengatakan, pekerjaan apapun akan membutukan matematika. Karena dengan matematika kita belajar menalar, memperhitungkan segala sesuatu. Contohnya ketika atlet volly ingin men-smash, pastinya harus memperhitungkan, lompatan saya harus tinggi.. pukulan harus keras.. jika tidak nanti bagaimana.. atau jika grup lawan cukup tangguh.. smash saya bisa di blok.. itu hanya contoh perhitungan sederhana, yang kita bisa menalar dengan baik jika sering belajar matematika.”

Para siswa terutama calon atlet memperhatikan seksama penjelasanku. Lantas kusuruh mereka membuka buku, materi peluang. Aku bersemangat melakukan eksekusi.

“materi peluang akan saya jelaskan dahulu, karena ini berkaitan dengan cita-cita kalian.. dalam peluang ada istilah ruang sampel, yaitu himpunan semua hasil percobaan yang mungkin terjadi. Langsung saja, misalnya kita akan menghitung peluang sebuah kejadian A, maka rumusnya adalah banyak kejadian A dibagi ruang sampel.”

Aku mengambil spidol lalu menulis di papan tulis. Anak-anak tampak bingung mendengar penjelasan dariku.

“kalian tahu.. berapa jumlah penduduk Indonesia?”

Anak-anak terdiam, mungkin semakin tidak mengerti apa maksud pertanyaanku.

“kurang lebih dua ratus lima puluh juta sekian jiwa, begitu yang baru saja saya baca. Sekarang mari sama-sama kita hitung, berapa peluang teman-teman ini untuk menjadi atlet.”

Para siswa tampak antusias menyimak.

“nah, jika 250 juta jiwa itu termasuk para orang tua dan bayi yang tidak seumuran kalian alias yang tidak mungkin jadi atlet bareng kalian .. maka saya ambil 50 juta anak yang seumuran kalian. Dari 50 juta itu ada yang ingin menjadi dokter, polisi, guru, petani, pedagang dan berbagai pekerjaan lainnya. Lantas kita tentukan berapa kira-kira anak yang cita-citanya jadi atlet. Menurut kalian berapa?”

Salah satu calon atlet tersenyum, tampaknya mulai memahami maksud penjelasanku. Beberapa anak mulai menjawab, “sejuta”, “dua juta”, “lima juta”.

“saya ambil 3 juta yang punya cita-cita jadi atlet volly, ini adalah ruang sampelnya. Lantas banyak kejadian A atau kalian di kelas ini yang nanti jadi satu tim volly berarti 6 anak, jadi peluang kalian menjadi atlet volly adalah 6 dibagi 3 juta, samadengan...”

Hampir semua anak sibuk menghitung di buku masing-masing.

“satu per lima ratus.”

Aku tersenyum, “satu per lima ratus atau satu dibanding lima ratus, inilah kira-kira peluang kalian untuk menjadi atlet. Sedangkan dari lima ratus calon atlet ini ada yang pandai, rajin mengerjakan tugas, hormat kepada gurunya, sehingga gurunya meridhoi dan mendoakan mereka menjadi atlet.. jika dibandingkan kalian yang hanya modal niat dan fisik doang.. tidak mengerjakan tugas.. maka silahkan membuat kesimpulan sendiri..”


Kisah diatas benar-benar saya alami. Perhitungannya, 95% based on true story, yang 5% improvisasi, harap maklum.. ada beberapa bagian yang lupa.

Setelah kejadian tersebut tiga dari empat anak yang bercita-cita jadi atlet berubah, mereka rajin mencatat dan mengerjakan tugas yang saya berikan. Yang 1 anak? Mungkin perasaan atau pikirannya kurang sempurna, karena yah... masih seperti itu, kebal sindiran, dia tidak bolos sekolah saja sudah untung. Semoga dia menjadi atlet, aamiin. Ini doa tulus saya, karena akan sangat berbahaya jika dia nanti menjadi wakil rakyat.

Akhirnya saya belajar. Fokus dalam meraih semua hal. Berkat mereka juga, saya rajin membaca, lantas banyak tahu kegunaan matematika.

Alhamdulillah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Algoritma Kecabuhan

#Mengobati_Lelah_Diri_Sendiri_2

DEBUT PEMUDA