Semua Bisa Menjadi Guru
Ungkapan dari adik lelakiku, yang saat itu sedang mengemudi disamping seorang sopir senior. Katanya sang sopir menunjukkan jalan-jalan tikus yang sebenarnya adikku pun sudah tahu. Sang sopir senior begitu khawatirnya menyerahkan kemudi kepada adikku, hanya karena mereka belum lama kenal, mungkin juga menganggap yang disampingnya itu bocah ingusan.
Kita terkadang merasa diri lebih banyak makan asam garam dari seorang bocah. Tanpa menyadari bahwa dari si ingusan kita bisa mengambil pelajaran yang mungkin dia dapat dari membaca atau pengalaman berbeda yang tidak kita ketahui atau alami.
Aku pernah bercerita di Facebook, tentang seorang anak yang sedang belajar berjalan, langkahnya terhenti, lalu tersenyum gembira hanya karena menemukan sebutir permen. Bagi orang dewasa itu memang 'hanya', tapi kadang kita perlu berpikir seperti anak-anak, agar lebih mudah bersyukur.
Lain cerita lagi ketika sore tadi kami kedatangan mbak-mbak cantik yang bermaksud mendemonstrasikan barang bawaannya. Ketika aku berkali-kali bertanya, "tapi gratis kan mbak?" Si mbak cantik masih tetap tersenyum sambil menjawab, "iya Bu.."
Pertanyaan penuh khawatir berikutnya adalah "lama nggak mbak?"
Si mbak yang full make up masih tetap ramah, "enggak Bu.. Paling 30 menit.."
Dalam hatiku, produk yang ditawarkan mbak ini sangat mewah, jelas harganya mahal, aku pasti tidak akan sanggup membeli untuk saat ini, tapi kasihan jika aku tak memberinya kesempatan untuk berdemo, tapi lebih kasihan lagi jika setelah demonstrasi aku tidak membeli..
Aduuuh....
Mungkin yang dipikirkan mbak sales adalah.. Ibu ini pasti takut kalau aku berniat tidak baik, tapi aku menawarkan produk hebat, ibu ini pasti menolak karena belum tahu, jika sudah tahu.. Ibu ini akan tertarik, apalagi produk kami bisa di kredit.. Aaah...
Setelah demonstrasi, aku berkata lembut.. "Maaf ya mbak.. Kami sebenarnya pengen.. Tapi belum ada anggaran untuk membelinya.."
Si mbak mengeluarkan jurus maut andalannya, bujuk rayu. Dalam batinku, aku tidak akan kalah. Setelah kemarin-kemarin sales A, sales B, C, Z.. (Lebay), yang ini akhirnya juga menyerah.
Sembari menunggu dia mengemasi barang-barang, aku bertanya berapa gajinya..
Masya Allah.. Hanya dan hanya..
'Hanya' itu adalah kata dari aku, pasti akan berbeda 'hanya' bagi masing-masing orang. Tanpa bermaksud sombong, aku melihat diriku sendiri.. Lantas memanjatkan syukur berkali-kali.
Kemudian si mbak berbagi pengalamannya, ketika mendatangi orang yang rumahnya berpintu gerbang tinggi dan si empunya rumah hanya meneriakkan penolakan dari dalam rumah, dia maklum.
Lantas ketika ada si pemilik rumah yang enggan diajak bersalaman, dia pun maklum.
Padahal katanya, dia diberi kesempatan demonstrasi saja itu sudah cukup walaupun tanpa ada yang membeli produknya.
Tapi saya pun maklum.. Bagi kami yang bukan sales, maaf.. Bagi saya pribadi ding.. (Tadi diatas aku, sekarang saya) Kadang merasa terganggu dengan kedatangan mereka, lantas curiga.. Mengajak salaman jangan-jangan akan menghipnotis, minta ijin ke belakang jangan-jangan sembari memanjangkan tangan, dan.. Pikiran jelek lainnya.
Padahal tidak semuanya begitu.
π
Ini kok saya jadi bingung mengambil kesimpulan dari cerita si mbak sales.. Dia guru apa ya?
Hemmm.. Oke!
Mari belajar untuk tidak gampang sakit hati pada setiap penolakan.
Ketika seribu kali gagal, mungkin yang ke seribu satu kita akan berhasil. Kalimat ini saaangat klise.
Ketika aku menjawab ungkapan seseorang (kembali ke aku lagi),
"Hidup tak semudah kata-kata Mario Teguh"
"Ya, memang.. Tapi Tuhan kan menciptakan kita untuk tidak hanya mampu berkata-kata..?"
Jadi kata-kata Mario Teguh jangan dibalas dengan kata-kata, tapi wujudkan dengan tindakan baik.
Super kan?
Tidak ada yang salah dengan kata-kata Bapak Sis Maryono Teguh. Ambil sisi positifnya.
Terlepas dari peliknya masalah beliau, beliau tetap mampu memotivator kita. Jangan fokus pada satu noktah hitam yang tampak di tengah-tengah kertas putih kawan..
Mari belajar dari semua hal, tetaplah merendah agar bisa melihat bagaimana rumput itu tumbuh, karena semua makhluk bisa menjadi guru.

Super sekali bu power...
BalasHapusBwt aq naksir kembang abang2 neng terase njenengan iku πππ
Numpang tenar e pak Mario teguh..
HapusIku neng omah AE, Bu Ros.. njenengan tindak mriku lo..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus