Anak sekarang banyak tekanan. Anak sekarang banyak tuntutan. Anak sekarang banyak saingan. Jadi begitu jiwanya tidak sanggup lagi menahan, maka bOOm! Meledak dalam wujud memukul teman, bikin konten umpatan, memberontak bahkan membacok gurunya. Mari kembali ke masa lalu. Zaman kecil saya sederhana. Pagi sarapan (wajib karena uang saku pas pasan, pas cuma buat sekali jajan), ke sekolah jalan kaki/bersepeda/naik angkutan umum itu biasa. Ya karena hampir semua anak seperti itu. Tidak ada ponsel pintar, tivi saja acaranya dunia dalam berita yang gambarnya bergaris-garis. Berita zaman dulu juga tidak semanipulatif sekarang, yang ujungnya memicu emosi. Film kartun favorit kami (baca: tidak ada pilihan) hanya ditayangkan di hari Minggu pagi, jadi iklan jajan yang menggugah selera tidak sempat bertengger dalam otak lebih lama. Bagi gen-x dan millenials, tidak ada google, jadi harus menalar tentang bagaimana caranya memetik mangga tetangga tanpa galah dan tidak ketahuan. Tidak ada media sosi...
Copas dari grup WA alumni SMA Negeri 1 Geger 2003 Puisi terakhir WS Rendra yang beliau buat sesaat sebelum beliau wafat. Hidup itu seperti UAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !! Ketika Orang memuji MILIKKU, aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja. Bahwa mobilku adalah titipan-NYA, Bahwa rumahku adalah titipan-NYA, Bahwa hartaku adalah titipan-NYA, Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA ... Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya, "MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?" "UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku?" Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA? Malahan ketika diminta kembali, kusebut itu MUSIBAH, kusebut itu UJIAN, kusebut itu PETAKA, kusebut itu apa saja ... Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA ... Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan KEBUTUHAN DUNIAWI, Aku ingin leb...
Genre: teenlit - young adult Selama menjadi pendidik, tak terhitung kata-kata larangan yang saya lontarkan kepada anak-anak didik saya. Saya cenderung over protektif kepada mereka generasi penerus bangsa ini. Bukannya tidak ingin mereka bahagia, misi saya hanyalah agar mereka tidak salah langkah dan timbul penyesalan di kemudian hari. Walaupun saya paham, kesalahan-kesalahan yang mungkin mereka alami bisa jadi pembelajaran untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Tetapi untuk kali ini, bukan itu yang ingin saya kemukakan. Saya tetap bertahan menjadi orang tua yang kolot dan mengagungkan kalimat: 'demi kebaikan'. Biarlah, mungkin akan ada anak belasan tahun lagi yang berucap di depan mata saya, "Aku nggak suka sama Ibu." (Senyum tipis aja) Tulisan ini bermula dari seorang anak yang sekarang sudah berada di tahap young adult, yang berkata: "Bener Bu, berbenah ndisik sing penting ki." Mungkin dia dulu juga sempat menolak nasehat saya. Saya maklum, menginjak bel...
Komentar
Posting Komentar