Matematika dan (versus) Seni
"Murid aja dibimbing sampai juara olimpiade, giliran anak sendiri UTS cuma dapat 6!"
Kalimat spontan dari bapaknya Azam ini menohok banget.
😶
Tapi sepertinya diriku tidak dibiarkan menyesal terlalu lama setelah bertemu seseorang.
Dia membagi cerita rekannya sesama pendidik, sebut saja ibu B.
Ibu B telah tiga kali dipanggil oleh wali kelas putranya, dengan alasan yang sama.. prestasi putranya terbilang rendah. Yang menginspirasi adalah ketika ibu B menanggapi hal itu dengan santai.
"Anak saya sudah belajar semampu dia, saya memang tidak pernah menuntutnya menjadi juara. Jika kondisi seperti ini menyulitkan pihak sekolah, saya bersedia memindahkannya ke sekolah lain yang bisa mendidik dan menerima keadaan anak saya."
Begitu kurang lebih tanggapan dari ibu B.
Beliau sungguh luar biasa, mungkin dampak signifikan bagi si anak akan tampak setelah menjadi dewasa. Anak terbiasa menjadi diri sendiri dan jelas bahagia.
Sebagian besar orang tua adalah makhluk paling egois bagi anak-anak di muka bumi ini (termasuk saya).
Berapa banyak orang tua yang menuntut anaknya pintar matematika?
(Orang tua saya jelas termasuk)
Berapa banyak orang tua yang menuntut anaknya menjadi juara?
Mungkin hanya sedikit saja orang tua yang bangga jika anaknya punya bakat melukis..
Mungkin hanya sedikit saja orang tua yang bangga jika anaknya hobi menyanyi..
Apa yang salah dengan menjadi seniman?
Apa yang benar dengan menjadi ahli sains?
Kalimat itu berpola benar dan salah ketika saya memposisikan diri sebagai guru matematika.
Salah karena menjadi seniman kurang menjanjikan untuk masa depan. Begini sistem di negara ini berjalan.
Benar karena menjadi ahli sains lebih membanggakan, bergengsi dan menjanjikan di masa depan.
Tapi sebagai guru seni budaya, saya berlakukan bahwa seni tidak pernah salah. Bahkan seorang teman berkata, "bernafas saja itu adalah seni."
Akhirnya, menjadi ahli sains juga adalah seni.
Semoga ini menjadi renungan kita sebagai orang tua.
Mari lebih toleran terhadap anak-anak, dengan menyeimbangkan seni dan logika. Anak-anak punya hak memilih, kelak mereka ingin menjadi apa. Tetap dengan arahan dan gambaran kita, bagaimana sistem di negara ini berjalan.
Mari berusaha untuk tidak egois seperti ibu B. Setiap anak mempunyai bakatnya masing-masing. Bakat yang tidak pernah bisa dipaksakan.
(Mudah-mudahan Nurcholis Majid membaca ini)
Si Majid juara olimpiade matematika karena usahanya sendiri. Bagi saya, dia sudah berbakat matematika sejak lahir. Untungnya saya berkesempatan ada saat dia akan mengikuti olimpiade matematika ini. Tidak banyak yang saya lakukan, hanya beberapa kali bertanya.. adakah kesulitan Nak?
Lebih tepatnya, saya hanya numpang tenar dia saja. 😂
Si Azam, mungkin memang kurang berbakat matematika. Dan juga, Azam baru kelas 1. Belum tepat waktu untuk memvonis dimana keahliannya.
Tolong jangan salahkan diriku ya Ay...
(Mudah-mudahan bapaknya Azam juga membaca ini)
😆
Bismillahirrahmanirrahim..
matematika adalah seni.


Iyaaaa.. Cin.
BalasHapus