Coretan seorang tua yang masih belajar menjadi orang tua..
*Semua
Umur
Coretan ini terinspirasi dari
maraknya adu meme antara gamers dengan pacaraners.
Gamers vs Pacaraners ini ibarat dua
sisi mata pisau yang bermakna negatif.
Pertama, ketika gamers yang sibuk
begadang menatap handphone sampai melupakan pergaulan, dengan bangganya berujar,
“daripada pacaran.. main game kan nggak dosa!”
Kedua, anak pacaraners, pintar
bersosialisasi bahkan dengan lawan jenis, pun dengan percaya dirinya berucap, “daripada
main game.. yang jelas ngrusak jiwa raga!”.
Dua sisi mata pisau yang
sama-sama menikam generasi zaman now, generasi dengan sistem android tapi sayang
otaknya belum android. (#penulis)
Padahal,
Banyak
hal yang jauh lebih positif dari keduanya, engkling, somprengan, dakon, bermusik,
berkebun, menari, melukis, menulis, memasak, dan yang penting jangan nonton
dilan.
Bukankah semua dilakukan untuk
satu tujuan?
Kebaikan.
Karakter dan kebiasaan baik itu
dilatih, bukan dipaksa, bukan pula hanya sekedar dipahami. Kemarin di kelas, saya
terkesan dengan mereka yang jujur ketika jawaban ulangannya salah, tapi saya
betulkan.
“Bu.. ini jawabanku salah lo..
jadi nilaiku enggak segini...”
Lantas ada anak lain lagi, “Bu,
aku udah minta tandatangan Papaku..”
Padahal di lembar jawaban
ulangannya hanya tertera nilai 49. Artinya dia tidak takut mengakui kelemahan
dirinya, yang pada saat itu bahkan saya tidak menginstruksi mereka untuk
menyampaikan hasil ulangan kepada orang tua.
Yang jujur seperti itu tidak
banyak, yaah...minimal masih ada, sebagai bukti hebatnya didikan orang tua
mereka.
Sedihnya jika bertemu anak yang
jujurnya keblinger,
“Bu, aku semalem nggak belajar.”
“Bu, aku yang nomer 2 nyontek.”
“Bu, aku semalem main game sampai
subuh..abisnya di pehape’in doi sih, jadi maaf kalau nanti nilaiku jelek karena
nggak belajar.”
Nah!
Dengan bangganya mereka berucap
lantang, “kan jujur Bu...”
Sangat percaya diri menganggap
bahwa yang telah jujur otomatis gugur dari dosa dan merasa telah berbuat baik. Iya,
jujur itu baik. Tetapi, sebuah kebaikan itu seperti rantai, jadi harus
dilakukan dengan cara baik, di tempat yang baik dan untuk hal yang baik pula.
Orang tua memang tidak akan mampu
melindungi anak-anak dengan selalu berada di sisinya setiap saat. Tapi jika
bekal yang diberikan itu ‘cukup’, inshaAllah anak-anak akan selalu aman
sekalipun tidak berada didekat orang tuanya.
Bekal kebaikan itu dilatih, dibiasakan,
dan tidak instan.
Mirisnya beberapa anak bercerita
sama, “pas doi chat semalem yang mbaca ayahku tek Bu.. tapi ayahku diem aja..”
Woow, inilah orang tua zaman now
yang mengizinkan anaknya bersosialisasi berlebihan dengan lawan jenis, hanya
dengan satu pesan, “pacaran boleh, yang penting jangan aneh-aneh.”
Hai bapak.. Hai ibu.. pacaran
yang nggak aneh-aneh itu seperti apa ya?
Memang masih lebih baik orang tua
yang berpesan, “main game boleh, yang penting jangan sering-sering.”
Hai bapak.. Hai ibu.. main game
dapat menyebabkan ketagihan, ketergantungan, emosional, anti sosial, serangan
jantung, gangguan kehamilan dan janin.
Kedua kalinya anak-anak,
Banyak
hal yang jauh lebih positif dari keduanya, engkling, somprengan, dakon, bermusik,
berkebun, menari, melukis, menulis, memasak, dan yang penting jangan nonton
dilan.
Kuno? Oke, bisa surfing, diving,
snorkeling, berkuda (ga ngerti inggrisnya), panahan, dan yang penting jangan
nonton dilan.
Opsi terakhir pasti malah jadi
pengen dilakukan, bukannya apa-apa sih.. tapi untuk otak yang belum android, aplikasinya
bakal nggak okelah..
Ketiga kalinya (yang mengulang
kesalahan sama adalah kedelai:D),
Jangan malah jadi generasi
android yang justru adalah gamers sekaligus pacaraners tanda seru tiga kali,
Banyak
hal yang jauh lebih positif dari keduanya, engkling, somprengan, dakon, bermusik,
berkebun, menari, melukis, menulis, memasak, dan...
Jika masih mainstream juga,
cobalah dengan mengaji, mengaji, dan mengaji.
Pastinya, enggak dosa dan bebas
radiasi.
(telah lama tahukah kita, jika air hujan yang
kita rasa sekarang itu juga adalah air hujan yang kemarin? #Ar-Rum:48)
Komentar
Posting Komentar