Kebaikan itu Bukan Takdir


Berawal dari hebohnya video bapak berkaos oranye yang memukul ibu-ibu di sebuah minimarket Pangkalpinang, kabarnya karena si ibu yang mencuri di toko milik si bapak. Si bapak oranye lantas menganiaya si ibu dengan sadisnya, padahal si ibu sangat berharap pengampunan dengan duduk bersimpuh di hadapan sang bapak oranye.

Tanpa dikomando, netizen dengan tanpa ampun juga lantas menghujat si bapak oranye karena dianggap tidak berperikemanusiaan. Beritanya, si bapak oranye langsung dipecat dari institusinya.
Tak lama, viral juga sebuah paparan yang berisi pembelaan kepada si bapak oranye. Di judul tertulis, "Waspada! Upaya pelemahan institusi p*lri melalui framing berita video pol*si".
Isinya, kita disodorkan dengan fakta bahwa kejahatan sekarang terjadi dengan modus wanita dan anak-anak sebagai pelakunya. Netizen diminta adil menyikapi semua kejadian. Cukup menyentil ketika ada satu kalimat persuasif seperti ini, 'siapapun yang membela penjahat adalah penjahat'.
😊

Semua orang merasa punya hak menghakimi (termasuk saya). Dan orang-orang Indonesia memang lumayan nganggur (termasuk saya), sehingga dengan cepat dan tangkasnya menanggapi detil setiap kejadian, bahkan siap melayani debat kusir di dunia maya (saya mengaku kalah saja).
Di kasus ini, saya dengan lancang menghakimi, si ibu simpuh beserta sindikat pencuri minimarket itu memang jahat, bahkan para penonton setia yang hanya diam menyaksikan dan merekam lalu menyebarkan video tersebut.
Selanjutnya, si bapak oranye yang merasa hebat itu juga jahat, karena main hakim sendiri dan tega menganiaya si ibu simpuh. Apa hebatnya memukul seorang wanita?

Yang hebat itu kasus kedua yang saya dapat dari media sosial di waktu yang hampir sama dengan kasus diatas.
Akibat kecerobohan seorang pengasuh, si bayi Manuel berusia 3 bulan harus mengalami keretakan tengkorak kepala sepanjang 8 cm.
Saya tidak membayangkan bagaimana perasaan si ibu Manuel menghadapi semua itu. Tapi sang ibu yang baik tidak memperpanjang perkara ini, tidak memukul si pengasuh, tidak juga menuntutnya ke meja hijau. Si ibu menyadari sepenuhnya bahwa kejadian tersebut murni kecelakaan.

Kedua kasus diatas memang tidak relevan, kasus pertama kriminal, yang kedua kecelakaan. Tapi saya yang memang lancang main hakim sendiri mencoba mencari korelasi. Si ibu bayi membuktikan bahwa orang baik itu masih ada. Silahkan dihitung, berapa kerugian si bapak oranye akibat pencurian yang dilakukan sindikat tersebut jika dibandingkan dengan si ibu Manuel yang sekarang menunggu putranya terbaring di ranjang kesakitan.
Lantas apa yang dilakukan si bapak oranye dan si ibu Manuel untuk menghakimi sang pelaku, sangat bertolak belakang.

Mengutip sebuah kalimat bijak, "Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik".
Siapa pencetusnya, Ali bin Abi Thalib ataukah Martin Luther king, saya rasa tidak perlu dipermasalahkan. Saya hanya menganggap ungkapan diatas benar dan mendukung kedua kasus yang saya paparkan.

Saya sendiri mengalami sebuah kisah menarik. Pada 28 Juni 2018 kemarin, kami dalam perjalanan dari Madiun ke Lampung. Mendekati gerbang tol Cikupa, kami yang telah memilih jalur GTO baru sadar bahwa e-money kami lenyap. Di jalur paling kanan kami menepi, dengan paniknya mencari di laci dan kolong kursi mobil sampai beberapa menit dan nihil. Seorang tukang sapu menghampiri kami, menanyakan apa yang terjadi. Belum sampai mendapat solusi, ada mobil dari seberang jalan arah yang berlawanan ikut menepi, dengan sigap si bapak pemegang setir mengambil sebuah kartu dan disodorkan ke kami, "ini masih ada saldo beberapa ribu, cukup untuk masuk tol ini, nanti selanjutnya masuk jalur tol tunai saja ya..".
Kami menanyakan berapa harus mengganti e-money si bapak, tapi beliau menolak, selanjutnya persis adegan di sinetron tanah air kita tercinta.
🤗

Diam itu emas, tetapi ada beberapa posisi dimana memilih untuk tidak diam bisa jadi emas untuk orang lain.
Saya yakin, banyak sekali orang baik di sekitar kita, tapi hanya segelintir yang memilih untuk tidak diam.
Andaikan saat itu si bapak oranye bisa sedikit dermawan dengan tidak memukul dan menendang si ibu simpuh, pasti citra institusi p*lri tidak semakin terpuruk.
Andaikan para penonton melerai,  menenangkan si bapak oranye, tidak mengambil gambar dan membuat viral video tersebut, pasti gelar masyarakat apatis tidak disematkan kepada kita. Iya,  tidak peduli, bahkan suka melihat orang susah dan susah melihat orang senang.
Andaikan banyak orang yang baik itu tidak diam.. 🤩

Sering saya mendengar ungkapan, entah dari siapa, kebaikan itu ibarat mata rantai, benar-benar merupakan kebaikan jika dilakukan dengan cara baik, untuk hal baik dan di tempat yang baik pula.




Dunia ini ibarat sebuah ruangan dengan banyak pintu, kita bisa memilih pintu mana saja untuk berbuat baik ataupun sebaliknya.
Kebaikan juga bukan takdir, karena berbuat baik itu mudah, hanya dengan terbiasa berpikir baik.

Terimakasih ya...pembaca yang baik..😇

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Algoritma Kecabuhan

#Mengobati_Lelah_Diri_Sendiri_2

DEBUT PEMUDA