Demi kebaikan, karena anak memang belum baik.
A long time ago..
Aku masih jadi anak, dan ingusan (sekarang sudah menjadi ibu, tapi masih juga ingusan).
Bapak yang selalu galak (viral bapak tergalak se-RT 20) berpesan, "kamu anak.. sekalipun wedok, kudu wani, ojo nggembeng, ojo kalah karo cah lanang."
Aku selalu ga' pernah pas dengan aturan-aturan dirumah yang sudah hampir mirip monarki britania raya.
Masih kuat ingatan ini ketika secara tidak sengaja, aku yang berada di usia dini menghilangkan sekrup kecil yang pada saat itu ngga paham apa fungsinya. Lantas bapak galak memerintah, "Dicari sampai ketemu! Kalau enggak, jangan masuk rumah!"
Scene berikutnya, ketika selepas Maghrib aku disuruh beli soto ke tempat yang (bagi anak kelas 2 SD) jauh dengan naik sepeda. Aku berusaha menolak, menangis, tapi jika bapak galak memerintah, aturan dirumah menjadi fardu ain, "Nek gak budal tuku, gak usah maem!".
Lagi, ketika terjadi pemberontakan pertama..kelas 3 atau 4 aku lupa, aku sengaja bolos sekolah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an), lalu ikut teman-teman berburu juwet (beberapa daerah menyebutnya jamblang). Aku pikir tidak masalah karena baru sekali saja, ternyata.. bapak galak mencariku, dengan membawa sebatang ranting, di depan teman-teman.. aku disabetnya (tanpa sepatah katapun).
Masih banyak memori sebenarnya, tapi kok ngrasa capek juga ya..ngetik dengan berkaca-kaca. 😁
Langsung saja ke scene terklimaks dalam hidupku, aku melakukan sebuah kesalahan, fatal, itu yang membuatku terusir dari tanah kelahiran. 🤗
Ternyata benar, butuh waktu satu dekade untuk bisa nyaman di tanah bukan kelahiran ini.
Jadi sekarang nyaman?
Tidak juga, karena logikanya.. tidak akan pernah ada tempat di belahan bumi manapun yang bisa menyamankan dan selalu menjadi seperti ingin kita.
Hanya karena sekarang lebih bisa menerima dan mengerti, ternyata semua kegalakan si bapak itu semata-mata demi kebaikanku.
Bapak galak ingin diriku mampu bertanggungjawab, tidak ceroboh, mau berusaha keras, nggak manja, rajin mengaji dan tidak ingin aku melakukan kesalahan, walau itu hanya sebutir debu.
Tulisan ini dirangkai sejak beberapa hari setelah pertambahan usia terakhirku.
Sekali lagi, tentunya setelah paham, kenapa bapak galak begitu.. atau kenapa bapak begitu galak..
Beliau galak saja aku masih lemah, mudah patah, ceroboh, masih labil ibadahnya dan jelas..masih sering melakukan kesalahan yang segedhe batu.
Untuk kalian, anak-anak kebanggaan.. dan semoga selalu mendapat kebaikan. Aamiin. 🤲
Memang Nak,
Perlu patah hati, untuk mengerti bahwa tidak semua hal bisa kita miliki.
Perlu jatuh, untuk tahu akibat dari tidak hati-hati.
Perlu direndahkan, untuk paham bahwa sombong itu justru merendahkan diri sendiri.
Tetapi, ada yang justru tidak perlu kita alami..
Tidak perlu mencuri dan masuk bui, agar mengerti bahwa menyesal itu tidak berguna.
Tidak perlu over dosis untuk paham bahwa napza itu berbahaya.
Tidak perlu hamil untuk membuktikan kenapa zina itu dosa.
Mengingatkan lagi,
Setan membuka 99 pintu kebaikan hanya untuk menjerumuskan kita dalam 1 keburukan.
Pertama, kita justru dibujuk sholat, kedua dibujuk untuk sedekah, ketiga hormat dan patuh ke orang tua, keempat enggak sombong, kelima nggak zina, keenam rajin, berikutnya suka membantu orang lain, ke sembilan puluh sembilan ga' ngomong jorok, pintu terakhir.. setan membuat kita lengah, membuat kita merasa sudah baik, membuat kita berdua saja dengan lawan jenis yang bukan mahram untuk melakukan kebaikan bersama, tetapi memantik fitnah melalui orang lain.
Hanya 1 saja pintu, dan kebaikan kita yang 99 sebelumnya, luruh.
Jangan dulu marah pada kaum renta yang cerewet seperti ini, jangan benci mereka orang tua yang menasehati, jangan iri pada orang lain yang tidak mereka beri peduli.
Kamipun belum baik, karena jika harus menunggu baik untuk menasehati, niscaya tidak akan pernah ada nasehat sepatahpun di dunia ini. Semua tuntutan, demi kebaikan, menuntut agar anak semakin baik.
Mengapa menuntut? Karena kami peduli.
Mengapa peduli? Karena kami menempatkan kalian di hati.
Hati-hati berkali-kali ya Nak.. 🙏
Selamat berbenah, cukup sampai 99 pintu saja, lalu ulangi dari 1.
🖤
Komentar
Posting Komentar