Dialah ALLAH, Sang Maha Proporsional

Iya, Sang Maha Proporsional.

Proporsional itu seimbang, atau kalau kata saya 'pas'.

Di awal tahun dua puluh ini, saya bertanya kepada anak-anak kelas, "menurut kalian.. ibu nanti jadi wali kelas berapa ya Nak?"
Beberapa menjawab kelas ini, ini dan ini. Beberapa juga menjawab dengan percaya diri, "yang kayak kami ini nggak ada lo Bu!"

Setelah berhari-hari saya berpikir keras dan belum menemukan jawabannya, saya menyerah, bergumam dalam hati, "besok ngga usah jadi wali kelas aja lah.."

Sang Maha Mendengar akhirnya menjawab dengan beberapa kejadian beruntun, yang putih jadi terlihat abu, yang abu jadi tampak hitam, yang hitam bisa berubah batik dan sesuka Sang Maha Kreatif lagi.

Berusaha mengorek ingatan. Tiga putaran menjadi ibu dari anak-anak yang berbeda,
Perkedel Kentang jadi si sulung, Persatuan Kelas Delapan Lima yang Keren dan Tangguh.

Beberapa bulan menjadi ibu mereka, saya tidak mampu menyatukan persepsi, menyatukan tekad, menyatukan sikap. Perkedel Kentang tumbuh dengan kemauan mereka masing-masing. Saat itu saya berujar, "kalau sekelas jomblo, kita makan-makan!"

Disitu saya belajar bahwa aturan ibu ternyata seperti tulang rusuk, patah jika dipaksa lurus. Bahkan ada kelas lain yang komentar, "haa.. mau makan-makan aja nunggu semua jomblo?"

Benar adanya, sampai mereka lulus, kita belum pernah makan-makan dengan tema kejombloan.

Awal masuk Perkedel Kentang saya dibuat kagum dengan duet mautnya si raja jomblo (semoga bertahan sampai halal, aamiin), ada papan bekas yang hampir menjadi penghuni tempat sampah menginspirasi mereka untuk melukis kaligrafi diatasnya. Saat itu kondisi kelas memang terkesan horor, bahkan kita merombak tembok dengan menempelkan koran bekas karena tidak mampu membeli cat. Iya, 'leles is the best!', motto kami waktu itu.

Perkedel Kentang beberapa kali berganti pimpinan. Saat itu saya memaksa mereka menjadi apa-apa yang di benak saya. Mereka mampu membanggakan di beberapa bidang, juara ceramah, juara adzan, juara futsal putri dan penciptaan kerajinan tangan. Tapi tetep seimbang dengan kegagalan di belasan lomba lainnya, terutama di akademis.

Uniknya Perkedel Kentang, para pemuda justru lebih mahir memasak dan menjahit dibanding pemudinya.

Berikutnya ada si PIRAMIDA, Populasi Warga Sembilan Dua.
Disini saya melihat komposisi gender yang tidak seimbang. Delapan perjaka diantara dua puluh enam perawan. Bisa dibayangkan, para perjaka tertindas dan memang sudah merasa sia-sia jika melawan. Dari kelas tujuh, ketua kelasnya masih sama, seorang perawan tangguh.

Secara akademis mereka cukup membanggakan, walaupun belum sampai jadi yang terbaik, tapi tanpa banyak kendali, mereka mampu bertahan di juara baca puisi, paduan suara, ikrar sumpah pemuda dan kelas terkreatif.
Satu hal paling tidak bisa saya lupakan adalah ketika Piramida yang punya nama lain Gasken dan Infinity ini menjadi relawan terbanyak di UNBK. Hal yang membuat penyakit cengeng saya kambuh, tepat di hari pertama pelaksanaan ujian nasional. Sekali lagi, tanpa banyak kendali.

Jika masa Perkedel Kentang saya cukup ketat pada pengawasan antar lawan jenis, di Piramida saya terkesan alpa. Akibatnya, mereka seperti lupa bahwa itu berbahaya terlebih dosa. Saya merasa menjadi manusia purba diantara para generasi milenial terkemuka jika mengajak mereka berdiskusi tentang hal ini.

Piramida hanya punya delapan pria, bukan sama sekali tidak berdaya ketika mereka tidak pernah memenangkan pertandingan olahraga. Jika ingin paham apa arti solidaritas yang sesungguhnya, justru mereka panutannya, ketika di istirahat pertama, ke delapan perjaka ini bakal melangkahkan kaki bersama demi dua rakaat Duha. Memang terpaksa awalnya, tapi mampu membuat saya tersenyum bangga.
(Tujuh yang sholat, yang satu menjaga, solid)

Masa sekarang adalah posisi dimana saya masih dilarang move on. PETERSELI, Pelajar Terkemuka Sembilan Lima.
Baru setengah perjalanan saya, tapi penyakit lama justru sering kambuh bersama mereka.

Manis sekali, hanya dengan sekali majas ironi, mereka mampu memaksa saya untuk tidak memandang sebelah mata. Juara hampir semua permainan tradisional, gobak sodor, balap karung, balap kelereng, makan kerupuk, engklek batok, tarik tambang sampai jepret karet.

Di akademis, juara paduan suara dan kelas literasi terbaik, juga hanya dengan sekali instruksi, bahkan ketika masih Kastengell Keju alias kelas delapan, mereka sudah meraih piala bergilir kelas terbersih, yang sampai kini piala tersebut masih nangkring di kelas mereka.

Lebih mencengangkan ketika saya meremehkan mereka di turnamen sepakbola. Saya tidak memberi komando apa-apa. Tidak paham juga track record mereka. Saya  menyaksikan permainan cantik kesebelas perjaka hingga tampak satu persatu kemenangan sembilan lima sampai meraih juara pertama.

Akhirnya saya bertanya, "ada nggak kelas yang kayak kalian ini, Nak?"

Ternyata pertanyaan itu membawa bencana. Saya lupa, tidak ada manusia sempurna. Jadi tidak akan pernah ada kelas yang sempurna. Bertubi-tubi sejarah terukir, volly, basket dan yang masih terasa mimpi, futsal. Peterseli telah dengan mudah tersingkir di babak penyisihan. Kami tersungkur hanya dengan sekali pertandingan. Ketika diantara isak tangis mereka, ada rangkaian kata, "ya udah lo.. masak mau menang terus..". Perfect!

ALLAH benar-benar Maha Proposional. Hanya dengan beberapa menit saja, saya dapat memanen buah kesombongan yang saya tanam sendiri. Saya dipaksa sadar, ketika saya punya aturan ibu, anak-anak juga punya aturan anak, bahkan saya tidak boleh lupa, ALLAH PUNYA ATURAN ALLAH.

Kini saya tidak akan bertanya lagi. Terlebih dengan sangat sadarnya paham, kalau saya tidak mampu menjadi ibu yang sempurna, mana boleh berharap anak-anak yang sempurna?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Algoritma Kecabuhan

#Mengobati_Lelah_Diri_Sendiri_2

DEBUT PEMUDA