Masih terngiang ucapan putri saya di awal
pandemi, "Aku suka lihat Ibu di dapur." Begitu pernyataan polos bocah
lima tahun yang otomatis membuat saya merasa tertonjok. Saya termasuk seorang
ibu yang malas melakukan aktivitas dapur. Miris, terlebih usia saya di kepala
tiga dengan anak pertama yang sudah kelas lima. Dulu saya menganggap jika
perkara makan merupakan persoalan sepele dan mempercayakannya kepada warung
makan yang banyak ditemukan di sekitar rumah kami.
Sejak pandemi, rutinitas manusia di dunia berubah, termasuk saya yang seorang guru matematika di sebuah SMP. Semua aktivitas hanya dilakukan di rumah saja. Awalnya terasa aneh. Pagi yang biasanya terburu-buru menyiapkan diri untuk sekolah, hingga tak jarang mengindahkan sarapan, kehadiran covid-19 justru menjanjikan sebuah kehidupan baru yang santai dan lebih menarik.
 |
| Sekarang saya bisa memasak sembari bercengkrama
bersama anak-anak. Walau hanya menu sederhana, tetapi anak-anak menyukainya.
Terpenting, kita hampir tidak pernah melewatkan sarapan. Mengesankan ketika
tahu si Mas suka memasak, puding dan sejenisnya sudah biasa dia masak sendiri. |
 |
Kami tidak perlu memakai seragam untuk
bersekolah, bahkan gambar ini diambil saat belum mandi. Belajar di rumah bisa
menawar waktu, tidak harus dimulai tepat pukul tujuh.
|
 |
Sesuatu yang tidak akan anak-anak lakukan jika berada di kelas formal bersama bapak dan ibu guru mereka, rebahan. Sungguh menguntungkan jika ingin buang air pun tidak perlu berjalan jauh seperti ketika di sekolah.
|
 |
| Dulu saya ingin protes, kenapa guru di sekolah membiarkan anak saya kurang rapi dalam mewarnai, juga ketika salah menempatkan huruf kapital. Covid-19 mengurungkan niat saya karena ternyata mengajar anak sendiri sungguh tidak mudah dilakukan. Menghadapi anak TK dan SD butuh kesabaran ekstra. Padahal saya seorang guru yang hanya mengajar dua manusia, bukan satu kelas yang berisi puluhan anak TK. |
 |
| Corona lagi-lagi membuat saya terpana. Tugas si Mas berikut membuat saya mengaku kalah dengan anak kelas lima dalam karya seni rupa. Akhirnya saya mengerti bakat putra saya dimana. |
 |
| Kenaikan kelas menunjukkan berkah sang wabah, Alhamdulillah. Biasanya si Mas hanya mendapat peringkat tiga atau empat. Tidak etis jika berharap pandemi tidak lekas berlalu hanya karena mengharap anak saya terus menjadi nomor satu. Tidak, saya sungguh tidak berdoa demikian. Saya hanya mengoptimalkan kewajiban mendidik anak-anak dengan baik dan berusaha memaknai kehadiran sang wabah untuk terus berbenah. |
 |
Selain belajar bersama anak-anak sendiri, saya mempunyai tanggung jawab sebagai pendidik. Keharusan di rumah saja memberi kami ilmu baru, google classroom. Classroom sangat efisien untuk pembelajaran jarak jauh dengan desain belajar di kelas sesungguhnya tanpa khawatir kehilangan data.
|
 |
| Kendala umum belajar daring adalah keterbatasan kuota. Beberapa siswa mengantisipasi dengan meminjam akun orang tuanya untuk digabungkan juga. Saya pun memperbolehkan mereka mengirim tugas di whatsapp jika hanya ada paket data medsos. Anak-anak harus paham jika teknologi justru memudahkan mereka. |
Pandemi mengajarkan cara menghargai waktu secara
berkualitas bersama keluarga. Saya bisa mengajar tiga jenjang sekaligus, TK, SD
dan SMP. Nyatanya, belajar di rumah saja membuat saya tidak buru-buru mandi,
berpakaian rapi, melewatkan sarapan, juga tidak harus menahan nafas karena
bersaing dengan pengendara yang ugal-ugalan di jalan pagi hari. Terima kasih
pandemi, engkau benar-benar membawa misi, menjadikan saya manusia berarti.
Alhamdulillah berbenah dari wabah, semoga berkah. Aamiin...
BalasHapusAamiin. 🤲
Hapus