DEBUT PEMUDA

Genre: teenlit - young adult

Selama menjadi pendidik, tak terhitung kata-kata larangan yang saya lontarkan kepada anak-anak didik saya. Saya cenderung over protektif kepada mereka generasi penerus bangsa ini. Bukannya tidak ingin mereka bahagia, misi saya hanyalah agar mereka tidak salah langkah dan timbul penyesalan di kemudian hari. Walaupun saya paham, kesalahan-kesalahan yang mungkin mereka alami bisa jadi pembelajaran untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Tetapi untuk kali ini, bukan itu yang ingin saya kemukakan. Saya tetap bertahan menjadi orang tua yang kolot dan mengagungkan kalimat: 'demi kebaikan'. Biarlah, mungkin akan ada anak belasan tahun lagi yang berucap di depan mata saya, "Aku nggak suka sama Ibu."

(Senyum tipis aja)


Tulisan ini bermula dari seorang anak yang sekarang sudah berada di tahap young adult, yang berkata: "Bener Bu, berbenah ndisik sing penting ki."

Mungkin dia dulu juga sempat menolak nasehat saya. Saya maklum, menginjak belasan tahun, jiwa remaja selalu memunculkan pemberontakan, melawan perintah orang tua dan menganggap kaum tetua ini ketinggalan zaman alias tidak memahami gaungnya era milenial sekarang.

(Menghela nafas sejenak)


Jadi yang saya ungkapkan ke mereka itu pondasinya dari QS. Al Isra' 32 yang saya singkat jadi empat huruf saja: JOSH, jika dipanjangin jadi tiga kata yaitu JOmblo Sampai Halal. Yang belum move on pasti ingat kalimat panjang saya, kurang lebihnya begini:

"Nak, teruslah berbenah. Jangan berhenti di titik ini. Karena jika stop di fase ini, yang kalian temui juga hanya orang-orang yang nilainya setara dengan kalian di lingkar ini. Percayalah, jika kalian baik, nanti juga kalian hanya dipertemukan dengan orang-orang baik. Dan jangan menganggap bahwa kalian sekarang sudah baik lo ya.."


Berikut saya buatkan skemanya.

Dengan senang hati saya jelaskan. Katakanlah si A menilai dirinya dengan 20, lalu cukup puas berada di red zone, maka yang akan si A temui juga hanya orang-orang dengan nilai maksimal 25. Lain halnya jika si A berbenah, terus berbenah hingga sampai di white zone, maka si A akan bertemu teman-teman, ah.. langsung saja saya sebut jodohnya di fase teratas itu juga.


Ada seorang yang langsung menyanggah.

"Saya sudah merasa dia ini baik banget Bu, jadi saya nggak ingin yang lain lagi." 

(Ketawa tanpa suara)


Iya boleh. Memilih untuk berhenti ataupun lanjut berbenah itu hak asasi masing-masing manusia. Walau sebenarnya Allah menjanjikan sesuatu yang menggiurkan. Pernah nggak kalian berpikir bahwa, jika kalian masih berusaha berbenah, maka sosok yang kalian anggap sudah baik itu jika memang jodoh juga sedang sibuk berbenah untuk nanti dipertemukan dengan kalian di zona dengan nilai tertinggi. Karena jodoh nggak akan tertukar. Jadi berhenti berprasangka buruk kepada Allah.

(Seruput coklat hangat sebentar)


Jangan menyepelekan nasib baik ya..

Kita yang kalau pikirannya saja sudah negatif, otomatis tindakannya juga akan banyak negatifnya. Jadi langkah pertama berbenah adalah perbaiki pikiran dan hati. Tidak perlu khawatir dia yang sekarang sudah cukup baik itu tadi akan berpaling dan menjadi milik orang lain. Kalau memang kalian ini mampu berbenah hingga sampai di nilai 99 (100 sempurna, sedangkan yang sempurna itu bukan manusia), kemudian ternyata tidak berjodoh dengan yang tadi dianggap cukup baik, ya berarti dia tidak sampai di zona putih seperti kalian. Bisa jadi si dia menyerah di zona hijau, jadi dapat sosok yang juga ada di zona hijau. Tenaaaang.. jangan panik, sudah ada sosok buat kalian yang juga bernilai maksimal, 99. InsyaAllah berkah. Aamiin-i saja.

(Tersenyum ridho)


Ada yang bilang, kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang salah sebelum nanti bertemu dengan yang tepat.

Menurut saya, kalimat yang lebih pas bukan orang-orang yang salah, tetapi orang-orang yang kurang berbenah. Memang jatuh cinta itu fitrah, tetapi juga merupakan ujian bagi kalian yang sedang berbenah. Ujian itu satu hal yang harus dilalui untuk dapat meraih jenjang yang lebih tinggi. Silahkan memilih Nak, memilih mengikuti ujian untuk naik kelas atau stuck di zona nyaman yang sekarang saja.


Sebelum ada yang protes, bisa saya perkirakan kalimat yang akan terpola di pikiran kalian.

"Memangnya dulu Ibu sudah sampai di zona putih?"


Saya menjawab, "karena dulu ibu tidak sampai di zona putih ketika mengakhiri masa lajang, jadi ibu menyesal. Untuk itu sekarang ibu masih berusaha terus berbenah, dengan harapan pendamping ibu juga berbenah untuk bisa sama-sama berakhir menjadi pribadi yang bernilai maksimal. Aamiin."


Kalian menyanggah lagi, "kalau gitu saya juga berhenti ajalah sekarang, kan nanti bisa berbenah bersama, kayak Ibu."


(Ambil nasi dulu buat isi amunisi)


Oke, bismillahirrahmanirrahim, mamah menjawab:

"Pernah tidak kalian mendapati pasangan suami istri yang beda sifat, satu rajin satunya malas, satu pinter satunya enggak, satu baik satunya... pokoknya begitu. Hiish, edisi teenlit kok udah mbahas pernikahan. Tapi ini penting biar kalian serius berbenah. Kembali pasutri (+, -) diatas. Itu menurut ibu contoh ketika menyerah di zona merah atau sebelum zona teratas. Belum tentu si pasangan mau terus sama-sama berbenah, karena pada dasarnya mereka sudah merasa puas dengan begini-begini saja. Lebih tepatnya sudah merasa cukup baik, jadi tidak perlu berbenah lagi."


(Ambil posisi rebahan)

Mengingatkan saja, silahkan membaca ulang coretan saya pada 10 Maret 2019, setan membuka 99 pintu kebaikan hanya untuk menjerumuskan manusia ke dalam 1 pintu keburukan.

Memang semua kembali ke pribadi masing-masing, tulisan ini juga belum tentu terbaca oleh semua anak didik saya. Yang membaca pun belum tentu paham akan maksud saya. Yang paham juga belum tentu tergerak untuk berbenah. 


Tetapi saya tetap berkeras menjadi ibu yang konservatif serta penuh harapan,

agar kelak kalian dipertemukan dengan orang-orang di white zone atau dalam bahasa matematikanya kuadran I (+, +). Aamiin.

Bila gagal paham berlanjut, hubungi author ya...


Berikut fase berbenah versi koordinat kartesius. Tidak seperti versi tangga diatas, tetapi sama aja ketika di zona kuning atau hijau masih dihuni oleh orang-orang yang belum tuntas dalam berbenah. Bahkan misalkan kita sudah agak baik pun, belum tentu mendapatkan sosok yang sama positifnya dengan kita. So, fokus ke kuadran I. 🍉


Silahkan mau ikut versi tangga atau versi koordinat kartesius sih sah-sah aja. Milih pakai versi kalian sendiri juga boleh kok. Bahkan nggak berbuat apa-apa itu pun bisa dibilang milih lo. 
(Senyum ikhlas)

Akhirulkalam, sibuklah berbenah sampai kalian sendiri tidak sadar jika telah sampai di zona teratas. Sibuklah berbenah sampai kalian tidak merasakan pahitnya mengerjakan soal ujian. Sibuklah berbenah sampai waktu dimana kalian dipertemukan dengan yang bernilai maksimal, yang sama sekali tidak pernah kalian sangka sebelumnya jika sosok itu benar-benar nyata. Karena pada dasarnya, manusia baik tidak akan pernah merasa dirinya baik.


🎀✂️ (maksudnya potong pita, peresmian debut pemudi pemuda berbenah)













Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Algoritma Kecabuhan

#Mengobati_Lelah_Diri_Sendiri_2